(REVIEW) Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Karya Brian Khrisna : Ketika Arti Hidup Didapat Dari Hal Yang Sepele


``Orang-orang bilang, bagian terberat dari menjadi dewasa adalah kamu akan dipaksa untuk selalu berjalan, tidak peduli sedang sesulit apa keadaanmu saat itu, kamu harus tetap berjalan. Sebab hidup memang seperti itu``


Hai Sobat Buku, pernah gak kalian merasa kehidupan yang kalian jalani sekarang, serasa kehilangan maknanya? Kaya ada kekosongan atau gap yang membuat diri kita tidak bisa menikmati hidup dengan layak dan normal. Perasaan yang secara langsung menjerumuskan kita ke dalam lembah kematian yang mematikan jiwa.

Kali ini aku akan membahas tentang kehilangan, kesepian, dan rasa putus asa dari seseorang yang mengalami beban dan depresi mental yang semuanya tertuang dalam sebuah novel berjudul `` Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati `` Karya dari Brian Khrisna yang salah satu novelnya juga pernah aku review.

berikut link nya bisa temen-temen baca ya :

Tanpa menunggu dan membuat kalian bertanya-tanya akan Novel ini, mari kita masuk ke pembahasannya.

Identitas Novel 

Judul : Seporsi Mie Ayam Sebelum 
Nama Penulis :
Penerbit : Gramedia
Tahun Terbit : 2025
Jumlah Halaman : 210 Hal

Coretan Kisah Tentang Luka Dalam Jiwa Dan Renungan Akan Makna Hidup Sesungguhnya

Fase terberat dalam perjalanan hidup manusia adalah saat kita memasuki usia dewasa. Sebuah masa dimana diri kita ini ditampar oleh realita kejam dari kehidupan itu sendiri. Hal itulah yang mungkin tengah menghinggapi diri Ale-seorang tokoh utama dalam buku " Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" Karya Kak Brian Khrisna.

Ale adalah seorang pekerja kantoran berumur 37 tahun yang harus menjalani hari-hari suramnya dalam kesendirian yang membosankan. Hidup dalam lingkaran kesepian dan depresi yang menyiksa dirinya selama bertahun-tahun, membuat Ale merasa jika ia telah kehilangan makna atas hidup ini.

Hidup dalam siklus yang sangat monoton, meringkuk di ranjang Kamar yang sangat gelap. Saat kehidupan di luar penuh dengar kebahagiaan, Ale harus tenggelam dalam kesedihan. Dalam keheningan malam, pria itu kerap ditemani oleh bayang-bayang luka dan trauma masa lalunya.

Ingatan kelam akan masa kecil Ale yang dimana dia pernah menjadi korban perundungan karena fisiknya, dirinya yang tak dianggap berharga oleh orang tuanya, hingga pengucilan oleh sesama teman-temannya di kantor, Membuat Ale berfikir bahwa keberuntungan tidak pernah memihaknya.

Bertahun-tahun lamanya Ale hidup dalam kesunyian tanpa ada satupun orang yang peduli dengannya dan menganggap dirinya berharga. Hal itu bisa dilihat ketika Ale berulang tahun namun tak ada satu pun dari teman-temannya yang mengucapkan selamat kepadanya.

Beban depresi yang menumpuk di benak Ale membuat pria itu akhirnya membuat sebuah keputusan nekat yang akan merubah hidupnya. Keputusan yang diambil dari keputusasaan. Di kamar apartemennya yang gelap dan bau, Ale memutuskan untuk bunuh diri dengan cara menenggak obat depresinya dalam dosis yang tinggi. Berharap kematian bisa membawanya dari hidup yang sial ini

Tapi sebelum dirinya bunuh diri, Ale ingin mencicipi seporsi mie ayam untuk terakhir kalinya sebelum dirinya mati. Mie ayam langganannya yang akan menjadi penutup kisah hidupnya. Ale bertekad, Dia berhak bahagia di detik-detik terakhir hidupnya. Namun sayangnya, Ketika dia hendak membeli mie ayam milik pak jo, ternyata sang penjual sendiri sudah wafat beberapa waktu sebelumnya.

Kesal dengan dirinya yang terus-terusan sial, membuat Ale begitu muak dan jengkel setengah mati. Bahkan untuk hal sepele seperti membeli mie ayam pun, Ale selalu merasa tidak bisa melakukannya dengan benar. Dari rasa kesal itulah yang menjadi titik awal Ale menuju takdir yang akan merubah hidupnya. Sebuah perjalanan panjang dalam menemukan makna tersembunyi dibalik hidupnya yang berantakan.

Kadang Ale sendiri berfikir bahwa dia kerap sekali melupakan hal-hal kecil yang baginya mungkin sepele, tapi bagi orang lain, hal kecil itu memiliki makna yang besar. Lewat pertemuan dalam rangkaian takdir yang digariskan oleh tuhan, Ale bertemu dengan banyak manusia-manusia yang terpinggirkan dari kehidupan yang layak. Manusia-manusia berstatus rendahan seperti pelacur, preman, bandar narkoba, Pedagang buta, yang justru mereka semua menjadi orang-orang yang memberikan tempat yang tulus dan nyaman untuk Ale.

Untuk pertama kalinya, di lingkungan yang buruk dan kumuh, lingkungan yang hanya diperuntukan bagi mereka yang dianggap bukan manusia, Ale merasa diperlakukan secara manusiawi. Memang benar, sesuatu yang kita pandang sebagai keburukan sekali pun, belum tentu berjalan demikian.

Menggunakan gaya menulis yang sederhana dan mudah dipahami, kak brian khrisna telah berhasil membawa imajinasi para pembaca dalam menyusuri kisah perjalanan seorang Ale dalam mencari setitik arti yang menjadi alasan dirinya harus tetap bertahan hidup di dunia ini. seorang penyintas depresi akut yang berkelana menyusuri pinggiran rel kereta, berjalan pelan di tengah gemerlap lampu diskotik, hingga kembali lagi ke apartemen tempatnya akan melakukan bunuh diri.

Ale memang sosok imajinatif. Namun kehadirannya di buku ini seolah menjadi pengantar pesan bagi mereka orang-orang yang putus asa dalam hidup, bahwa seberat apapun beban hidup yang terkadang membuat kita berfikir bahwa mati adalah solusinya, Hidup masih layak untuk diperjuangkan, Walaupun alasan untuk bertahan hidup hanya demi seporsi mie ayam sekalipun.

Penilaian
Aku memberi rating 8/10 untuk Novel yang hebat ini. Novel yang berani mengangkat isu tentang kesehatan mental dan kesepian yang banyak dialami oleh orang-orang sekarang. Dengan gaya tulisan yang mudah dipahami serta alur yang gampang dicerna, menurutku novel ini layak diberi rating sekian. 

Kesimpulan
`` Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati `` tidak hanya sebuah novel saja, namun bagiku karya ini adalah refleksi dari bagaimana seorang manusia yang sudah kehilangan seluruh yang berharga dalam hidupnya seperti kepedulian dari orang tua, teman-teman terdekat, rasa kepercayaan diri, hingga keinginan untuk melanjutkan hidup.

Novel ini sukses menghadirkan kisah perjalanan penuh perjuangan dan tantangan dari Ale, si penyintas depresi yang menghadapi berbagai gejolak emosi dalam pencariannya akan makna hidup yang telah hilang dari dirinya. Memberi suatu pelajaran berharga untuk kita semua jika betapa pun beratnya hidup, tolong,,,jangan sampai kalian menyerah begitu saja dengan membunuh diri sendiri.

Hidup memang berat, aku pun mengakui itu. Hidup ini begitu membebani hingga aku pun pernah ada di titik bawah yang paling rapuh sekali. Tapi aku berusaha untuk bangkit berdiri walau tertatih-tatih dan kadang jatuh kembali. Pokoknya aku harus tetap hidup dan bernapas.

Ketika kalian jatuh tersungkur dalam perjalanan hidup, ingat beberapa hal yang aku tulis disini :

Masih banyak hal berharga dalam diri kalian
Masih banyak yang peduli dengan kalian
Masih banyak kasih sayang dan cinta dari tempat lain yang bisa kalian cari dan rasakan.

Dan sebagai penutup tulisan kali ini, Aku hanya ingin mengucapkan : Selamat Memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia.

Peduli dengan mental menjadi tugas dan tanggung jawab masyarakat global. Bukan hanya untuk kita, tapi kalian semua. Hidup yang nyaman berawal dari mental yang aman. Mari kita bersama berdiri, berpegangan tangan, menggenggam jari jemari seraya berucap dengan kompak :

Merawat Luka Jiwa, Sembuh Dari Beban Trauma






Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer