(REVIEW) Atheis By Achdiat K. Mihardja : Seorang Anak Manusia Yang Mencari Keberadaan Tuhan
Raden Wirya mempunyai seorang anak bernama Hasan. Anak yang dia harapkan bisa menjadi orang beriman yang hidup dalam arahan dan bimbingan agama islam yang dianutnya. Sejak kecil, Hasan hidup dalam pengajaran islam yang ketat. Hasan dididik untuk beribadah kepada tuhan dan menyerahkan diri sepenuhnya dalam lautan iman.
Berlanjut saat Hasan dewasa, dia menetap di kota untuk bekerja. Hasan di lingkungan kerja nya dikenal sebagai orang yang saleh. Amat jarang ada orang yang masih mempertahankan nilai-nilai konservatif di tengah gaya hidup kebarat-baratan dan modernisasi yang sedang terjadi.
Tapi di titik inilah, terjadi perubahan dalam pandangan dan kepribadian Hasan dalam memahami agama dan tuhan. Terutama ketika pertemuannya dengan kawan lamanya yang bernama Rusli dan teman Rusli yang bernama Kartini.
Pertemuan dengan kedua orang tersebut adalah awal dari Hasan mempertanyakan keyakinannya sendiri. Tentang tuhan, tentang nilai agama yang selama ini ditekuninya. Dan tentang semua yang telah dilakukannya selama ini untuk menjadi hamba yang taat dalam menjalankan praktek agama.
Perlahan keraguan menyelimuti iman dalam diri Hasan tentang tuhan. Hasan sadar setelah dia bertemu dengan banyak orang yang lebih mengutamakan akal dan pikiran yang ilmiah dibanding kepercayaan takhayul.
Terbayang jelas oleh Hasan saat kawan-kawannya berkata jika tuhan hanyalah teknik belaka. Dan manusia lebih tinggi dan penting nilainya dibanding kehadiran tuhan itu sendiri. Sesuatu yang awalnya menggguncang dan menyinggung perasaan keagamaannya namun pelan-pelan diterima oleh Hasan sendiri.
Yang tadinya dia seorang paling taat dalam mengimani tuhan, perlahan Hasan berubah menjadi atheis. Orang yang lebih mengutamakan akal dan logika dalam memahami dunia dibandingkan kepercayaan warisan leluhur yang sangat diragukan kebenarannya.
Novel ini memang kebanyakannya menyorot tentang perjalanan hidup Hasan dalam menemukan identitas dirinya sebagai manusia yang berjalan diantara dua pilihan yang menentukan hidupnya kelak : Iman atau ideologi yang diyakininya.
Novel ini juga membahas perjalanan cinta Hasan, konflik dengan keluarga terutama sang ayah karena perbedaan pandangan, serta pengkhianatan oleh orang terdekatnya.
Banyak hal yang aku dapat dari novel ini, diantaranya ialah sikap kita dalam mengimani agama yang tidak hanya didukung oleh iman belaka, tapi juga oleh ilmu dan wawasan yang mendalam. Karena keyakinan buta hanya akan menghasilkan fanatisme yang menolak berbagai pandangan yang ada. Keteguhan dalam memegang prinsip dan pandangan sendiri tentu harus dilandasi oleh adanya kesadaran dan pemahaman akan apa yang diyakini.
Tidak terombang-ambing ke kanan maupun kiri seperti Hasan yang akhirnya malah menjadi seorang Atheis.
Untuk kekurangannya sih mungkin lebih ke pengaturan tata letak paragraf dan jenis tulisan yang ada di halaman novelnya yang kebanyakan nya agak kurang jelas terbaca dan berpengaruh terhadap kenyamanan membaca.

.jpg)

Komentar
Posting Komentar