(REVIEW) Perempuan Di Titik Nol By Nawal El-Saadawi : Garis Takdir Perempuan Di Bawah Payung Patriarki

 


“Sejak kecil aku belajar bahwa rasa sakit adalah bagian dari menjadi perempuan.”

Mayoritas kaum pria adalah makhluk serakah yang dikuasai oleh nafsu birahi. Mereka hanya mementingkan kepuasaan seksual demi diri mereka sendiri. Mereka menggunakan tameng politik dan agama untuk melegitimasi sikap brutal mereka dalam mengeksploitasi hak, merongrong martabat, serta merebut kehormatan kaum perempuan.


Hallo sobat buku, di tulisan kali ini kita akan membedah sebuah novel yang membahas topik yang tidak biasa namun menarik. Sebuah novel berjudul “ Perempuan Di Titik Nol “ karya Nawal el-Saadawi yang mengupas tentang nasib perempuan-perempuan yang hidup di bawah bayang-bayang sistem dan hukum konservatif dan tradisi patriarki yang kaku, menindas, serta mengkerdilkan hak dan kedudukan perempuan.


Lewat serangkaian obrolan langsung dengan tokoh asli yang dikisahkan di buku ini, Nawal el-Saadawi akan mempersembahkan kepada kita tentang isu mengenai ketidakadilan gender melalui cerita yang memukau dan menyedihkan.


Inilah  `` Perempuan Di Titik Nol `` Simak sampai tuntas ulasan kisahnya.


Identitas Novel

Judul                : Perempuan di Titik Nol

Judul asli           : Woman at Point Zero

Penulis                : Nawal El Saadawi

Jumlah halaman     : 176 Hal

Genre          : Novel feminis / fiksi sosial

Tahun terbit       : 1975

Penerbit               : Yayasan Obor Indonesia


Hak, Martabat, Dan Kebebasan Perempuan Yang Terenggut Oleh Sistem Sosial Yang Jahat

Kaum perempuan acapkali menjadi pihak yang sering termarjinalkan dalam berbagai budaya dan lapisan sosial masyarakat. 


Sejak dulu bahkan hingga sekarang, struktur sosial masyarakat yang cenderung memelihara budaya patriarki telah mendiskriminasi begitu banyak kaum perempuan dari berbagai posisi di masyarakat. Mengecilkan peluang mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak, akses pekerjaan, serta kebebasan dan kemerdekaan untuk menentukan nasib diri sendiri.


Lewat kisah yang dibawakan oleh seorang perempuan bernama Firdaus–seorang tahanan yang telah divonis mati karena melakukan pembunuhan, kita diajak untuk menyelam ke dalam realita pahit masyarakat mesir yang masih dikungkung oleh jahatnya sistem patriarki yang bukan hanya membatasi perempuan untuk berekspresi, melainkan membunuh harapan dan impian dari para perempuan yang menginginkan kemerdekaan dan kesetaraan.


Firdaus merupakan perempuan yang berasal dari keluarga miskin. Ayahnya suka melakukan kekerasan terhadap dirinya dan sang ibu sehingga dari kejadian tersebut cukup meninggalkan trauma bagi dirinya. Setelah kematian orang tuanya, ketakutan Firdaus terhadap pria kian bertambah saat dirinya sendiri menjadi korban kekerasan seksual oleh paman dan temannya sendiri. Penderitaannya makin bertambah ketika dia dinikahkan dengan seorang laki-laki yang suka melakukan kekerasan terhadapnya. Seorang syekh, tokoh terhormat namun menjadi iblis yang memenjarakan Firdaus dalam kehinaan dan ketakutan. 


Firdaus akhirnya memutuskan untuk lari dari si syekh kejam itu dan hidup mengembara di jalanan. Di jalanan yang tidak memberi belas kasihan kepadanya, Firdaus terus menyusuri ketidakpastian arah sebagai perempuan yang hidup dalam lingkungan yang kerap merendahkan harga dirinya. 


Di jalanan yang sepi dan dingin, Firdaus bertemu dengan seorang pria bernama Bayoumi, seorang pria baik, sopan, dan ramah namun nyatanya adalah penjahat yang melecehkan kehormatan Firdaus. Awalnya Firdaus berharap mendapatkan sosok pria baik yang bisa membebaskannya dari cengkraman penghinaan yang nista, Namun nyatanya, Bayoumi malah memanfaatkannya begitu saja.


Kembali Firdaus mendapatkan luka. Dan luka itu yang kian menambah kobaran api amarahnya terhadap setiap pria yang ia temui. Bagi Firdaus, kaum pria memperlakukan wanita bukan dilandasi oleh cinta melainkan untuk memuaskan dahaga seksual dan nafsu semata.


Lari dari satu tragedi buruk untuk masuk ke tragedi buruk lainnya sampai pada satu titik Firdaus menjadi pelacur yang menjual tubuhnya kepada pria-pria untuk mendapatkan imbalan yang menguntungkan. Tapi, Firdaus bukanlah pelacur murahan. Dia mematok harga mahal untuk siapa saja yang ingin menikmati dirinya. Karena baginya, ia adalah perempuan yang memiliki nilai tinggi dibanding sekedar pelacur murahan. 


Kehidupannya berakhir tragis tapi menjadi simbol keteguhan dan keberaniannya dalam melawan badai stigma masyarakat terhadap perempuan yang kerap diletakan di bawah ketiak hierarki sosial.


Penilaian dan rekomendasi

Setelah membaca halaman demi halaman yang menyentuh hati, buku ini membawaku dalam perenungan yang panjang. Perenungan yang menyadarkanku bahwa masih banyak perempuan-perempuan diluar sana 


Buku yang layak dibaca untuk mereka yang peduli dan tertarik terhadap isu-isu feminisme, kekerasan dan ketimpangan gender, serta pengaruh budaya dan tradisi kolot terhadap peran dan status individu berdasarkan fungsi gender. 


Menggunakan kalimat-kalimat yang miris, goresan kata yang penuh ironi yang terasa memanggil-manggil nurani kita, buku `` Perempuan Di Titik Nol `` layak dinobatkan sebagai karya berani yang menyuarakan betapa tidak adilnya nasib-nasib kaum perempuan yang hidup di bawah penindasan patriarki. Kata-kata yang ditulis oleh penulis begitu tajam, keras, dan penuh kritik sosial. 


Aku memberi rating 9/10 untuk buku ini. Karena dari isi, alur pembahasan, maupun pesan-pesan yang disampaikan semuanya dikemas menggunakan narasi yang kuat, jelas, serta menohok siapa saja yang membacanya. 


Buku ini adalah bacaan pertama yang mengenalkan kepadaku mengenai patriarki dan isu ketimpangan gender yang masih menjadi masalah utama yang dibahas di era kontemporer saat ini.


Yang penasaran bisa langsung baca aja bukunya yaaa...jangan lupa tulis kesan dan  pengalaman kalian setelah baca buku itu.

Sampai jumpa di ulasan-ulasan buku yang lain yaaa...










Komentar

Postingan Populer