`` Kita jangan takut pada gelap, Gelap adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Pada setiap gelap ada terang meski hanya secercah. demikian ujarnya. Tapi jangan pernah kita tenggelam pada kekelaman. ``
- Sang Penyair
Periode Kelam Masa Silam Yang Dihantarkan Lewat Sebuah Cerita
Hai Sobat Buku, Kembali lagi dengan aku, kita bersama mengarungi samudera literasi. Kali ini aku datang dengan membawa kisah baru dalam sebuah novel yang rasanya sudah sering kita semua dengar.
Siapa sih emang yang belum pernah baca atau dengar tentang novel " Laut Bercerita " Karya Leila S. Chudori. Pasti pernah dong soal Novel ini, ya kannnn?
Sebuah Novel yang merekam jejak perjuangan para mahasiswa yang tergabung ke dalam gerakan aktivis di masa orde baru. Mereka yang berjuang demi tegaknya keadilan dan kebebasan meski dengan taruhan besar yang mengancam nyawa mereka. Diintai oleh mata-mata rezim, berjuang secara sembunyi-sembunyi dalam gerakan bawah tanah hanya demi menyuarakan suara yang selama ini dibungkam oleh penguasa. Walau pada akhirnya, birunya laut yang tenang nan sunyi memeluk dan mengabadikan raga pada muda-mudi pengobar semangat revolusi untuk tegaknya keadilan dan kebebasan rakyat tersebut.
Novel ini menyorot peran aktif dari para mahasiswa — generasi muda bangsa yang tergabung ke dalam sebuah kelompok aktivis pergerakan. Ada kisah lain dibalik novel ini selain perjuangan dan keberanian. Disini kita akan menemui arti dari cinta sebenarnya, luka kehilangan, pengorbanan, bahkan hingga pengkhianatan. Semua terajut apik dalam baris demi baris paragrap yang menggentarkan sanubari kita sebagai pembaca.
Leila S. Chudori sukses dalam menghidupkan cerita melalui keterampilan dan kelihaiannya dalam menulis tiap kata serta memberi napas bagi karakter yang ada dalam Novel ini.
Ada kisah menarik yang tidak sekadar diceritakan, tapi layak untuk dirasakan — Laut Bercerita adalah salah satunya. Mari kita berenang dalam lautan kisah dari novel luar biasa ini. Melalui kisah Biru Laut dan keluarganya, Leila S. Chudori membawa kita ke masa kelam sejarah Indonesia yang kerap dilupakan.
Identitas Novel
3. Laut Bercerita : 1998 Dan Kebebasan Yang Dibungkam
Mengambil latar pada masa orde baru di era 1990-an, saat dimana kekuasaan otoriter secara penuh dijalankan oleh
presiden Suharto. Di bawah telapak kaki sang diktaktor–begitu sebutan yang disematkan orang-orang kepadanya, segala bentuk kebebasan untuk bersuara, kritikan terhadap pemerintah, aspirasi untuk perbaikan yang layak, semuanya dibungkam oleh perintah dan aturan yang mutlak. Hal ini menjadikan kekuasaan yang terpusat di satu orang – di dalam genggaman segelintir individu penuh kuasa.
Adalah Biru Laut Wibisono sendiri sebagai tokoh utama dari kisah di novel ini. Dia merupakan seorang mahasiswa sastra inggris di salah satu kampus di
yogyakarta yang berkecimpung aktif dalam sebuah gerakan mahasiswa bernama
Winatra. Winatra sendiri adalah nama dari organisasi pergerakan tersebut yang bertujuan untuk melawan segala bentuk dogma atau doktrin yang dihembuskan oleh pemerintah pada masa itu. Selain itu, tujuan lain dari gerakan ini adalah untuk mengungkap kebenaran yang selama ini ditutupi oleh rezim Suharto. mendampingi rakyat untuk melakukan unjuk rasa terhadap pemerintah hingga menyebarkan pamflet dan selebaran sebagai bagian dari aksi protes masal.
Biru Laut merupakan sesosok yang memegang teguh idealisme dan semangat perubahan untuk membuka babak zaman yang lebih terbuka dan demokratis bagi indonesia yang pada saat itu dicengkram oleh kekuasaan satu orang.
Biru Laut tidak sendiri, bersama kawan-kawan yang lain di winatra, dia dengan gesit ikut mendampingi dan mengomandoi berbagai aksi demo buruh maupun petani. Mulai dari aksi protes di
bungurasih hingga aksi penanaman jagung sebagai upaya simbolis di
blangguan, Anak-anak winatra menjadi penggerak utama di balik layar dari ramainya aksi-aksi rakyat tersebut. Hubungan pertemanan yang kompak antara Laut dan teman-temannya menunjukan semangat solidaritas dan kerja sama tim yang baik.
Namun sudahkah kita berkenalan secara singkat dengan Biru Laut sendiri? Rasanya belum ya, oke kalo belum yuk kita kenalan dulu ama karakter utama kita.
Terlahir dari keluarga yang sangat harmonis, Ayah Laut—
Arya Wibisana adalah seorang jurnalis di salah satu media cukup terkenal sedangkan ibunya merupakan perempuan mandiri yang gemar memasak makanan enak. Laut juga mempunyai seorang adik perempuan bernama
Asmara Jati, si anak yang menggemari dunia sains dan pengetahuan. Berbanding terbalik dengan Laut yang menggemari dunia sastra, teater, dan puisi. Dua bersaudara itu memang berbeda dari segi minat dan bakat, namun keduanya saling menyayangi dan melengkapi selayaknya saudara kandung.
Selain kehidupan hangat di lingkaran keluarga yang mendukung perjuangannya sebagai seorang aktivis, Biru Laut juga merupakan seorang yang akrab berkawan dengan teman-teman sesama mahasiswa yang memiliki misi yang sama. Ada
bram—Tokoh senior di winatra yang berkedudukan sebagai pemimpin sekaligus pengatur strategi dari berbagai rencana kelompok tersebut. Ada juga
Kinan—Mahasiswi jurusan ilmu politik yang juga menjadi tokoh senior di winatra. Selain dari mereka berdua, masih banyak kawan-kawan Laut seperti
Alex, Sunu, Julius, Daniel, Dana, Widi, Naratama, dan masih banyak lagi.
Biru Laut juga memiliki seorang kekasih bernama
Anjani, perempuan bertubuh mungil yang lihai dalam membuat sketsa gambar dan dia tergabung ke dalam komunitas
seniman taraka. Anjani menjadi figur perempuan yang sangat mencintai Laut. Mereka berdua berjuang dalam cinta yang menjadi sempalan romantis dalam kisah ini juga yang membuktikan bahwa kekuataan perasaan tak akan pernah padam meski raga telah menyelam di lautan dalam. Tentunya selain tema besar yakni perjuangan dan perlawanan yang dilakukan oleh anak-anak winatra terhadap rezim yang berkuasa.
Perlawanan yang dilakukan oleh Laut dan teman-temannya muncul lantaran tindakan dari pemerintah dan kaki tangannya — para aparat polisi dan militer yang menutup kebebasan rakyat, bertindak semena-mena terhadap mereka yang tak punya nama menggunakan cara-cara yang represif dan biadab. bagaimana para aparat itu kerap sekali mencurigai mereka yang dianggap berbahaya bagi negara meskipun apa yang dicurigainya itu hanya berjuang untuk keadilan yang telah hilang.
Dalam setiap langkah menggapai kebenaran, Biru Laut tidaklah selalu menemui jalan yang mulus. Bersama Daniel, Alex, Sunu, dan teman-teman yang lain, Biru Laut sering kali mendapat teror dan intimidasi dari para intel-intel yang selalu mengawasi gerak-gerik kelompok mereka. Namun sejauh yang mereka rasakan, yang paling menorehkan trauma mendalam adalah tragedi penculikan dan penyiksaan oleh para militer terhadap para aktivis tersebut.
Dari mulai disetrum, dipukul menggunakan tongkat dan besi, hingga ditendang oleh sepatu keras. Laut dan yang lainnya seakan masuk ke dalam lubang neraka berbentuk jeruji besi penuh siksaan. Tentu tragedi penyiksaan itu meninggalkan luka dan sebuah ironi dari bagaimana kejinya para aparat yang berlaku sedemikian brutalnya hanya untuk secuil informasi yang tidak ada apa-apanya dibandingkan nyawa manusia.
Waktu demi waktu berlalu, tak terasa siksaan demi siksaan kian meningkat dalam kadar yang membuat siapapun bergidik ngeri. Pelan-pelan, satu demi satu kawan-kawan Laut seperti Sunu, Julius, Gala, Alex mulai dibawa oleh para aparat ke tempat atau lokasi tertentu, termasuk dengan Laut sendiri.
Entah mereka hendak ``Dihilangkan `` atau apa. Hanya Leila sendiri selaku penulis yang mengetahuinya.
Selain menuturkan kisah perjuangan dari Biru Laut Cs, ``Laut Bercerita`` juga menceritakan bagaimana rasa kehilangan dan kerinduan dari para keluarga korban yang anak-anak mereka dan saudara-saudara mereka menjadi korban
penghilangan paksa dan lenyap tanpa jejak. Hal ini seperti yang dialami oleh Asmara Jati, adik dari Biru Laut dan keluarganya juga keluarga dari teman-teman Laut yang ikut mencari dan mengivestigasi hilangnya para aktivis itu. Dibantu oleh seorang rekan, Asmara dan korban-korban yang selamat mendirikan sebuah komisi yang dinamakan `` Komisi orang hilang `` Sebuah badan yang didirikan untuk mencari dan melaporkan identitas mereka yang hilang selama Suharto berkuasa.
Kembali ke `` Laut Bercerita `` Kisah dalam novel ini tidak cuman bercerita tentang politik semata, namun juga tentang kemanusiaan, kehilangan, dan harapan yang nyaris padam.
Kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh Laut dan teman yang lain menjadi jiwa yang digaungkan dalam novel ini. menjadi api dalam perjuangan untuk membela mereka yang tertindas. Walau ancaman dan bahaya menyasar jiwa dan melukai raga, Visi dan misi akan terciptanya indonesia yang adil dan makmur serta terbebas dari praktik pengekangan merupakan cita-cita luhur bagi Laut dan kawan-kawan.
Meskipun pada akhirnya hamparan laut yang luas memendam tubuh Laut dan mengekalkan jiwanya bersama ikan-ikan dan terumbu karang, Laut dan mereka yang telah dihilangkan menjadi manifestasi dari perlawanan, pemberontakan, dan rasa untuk bangkit setelah menyaksikan ketidakadilan terjadi di depan mata.
Biru Laut sangat memegang teguh ungkapan dari sang Penyair yang bilang :
`` Matilah Engkau Matilah, Kau Akan Terlahir Berkali-kali ``
Meski Laut telah mati, jiwanya akan bereinkarnasi ke dalam wujud yang lain. Wujud dari mereka yang berani dan teguh pada kebenaran.
Penilaian Dari Aku Sendiri
Aku memberi rating 9,5/10 untuk novel hebat ini. Sebab melihat beberapa aspek seperti narasi ganda yang mengambil dua sudut pandang ( Bagian Biru Laut & Asmara Jati ) sehingga hal ini menambah kedalaman emosi. Lalu juga deskripsi yang ditulis oleh penulis sendiri sangat kuat dengan riset dan kajian sejarah yang mendalam sehingga hal ini memberi kesan faktual yang kuat berdasarkan sumber dan data sejarah. Beberapa hal diatas didukung oleh gaya penulisan tokoh yang dalam sehingga pesan dan segi emosional dari tokoh tersebut bisa tersampaikan dengan baik. Meskipun dengan beberapa kekurangan bagiku seperti tempo cerita yang lumayan lambat serta muatan politik yang rasanya agak berat terutama untuk pembaca kasual.
Kesimpulan
Novel ini sangat aku rekomendasikan buat kamu yang ingin belajar sejarah lewat narasi yang menyentuh hati. Pasti kalo berhubungan dengan sejarah tuh hawanya bikin bosen dan ngantuk ya, nah makanya novel ini hadir dengan menyajikan suatu peristiwa sejarah di masa orde baru namun dibangun dengan nuansa khas novel yang imajinatif, santai, dan tentunya penuh dengan gambaran yang membawa pembaca seolah masuk ke dalam suasana di balik ceritanya.
Sekarang hanya ada satu pertanyaan yang tertinggal :
“Masihkah kita mau melupakan mereka yang pernah hilang?”
Komentar
Posting Komentar