ULAS BUKU INSECURITY : BAGAIMANA CARA BERDAMAI DAN MENCINTAI DIRI SENDIRI



INSECURE? You’re Not Alone. And It’s Okay.

Zaman sekarang tuh berubah cepet banget. Sosial media jadi bukti nyatanya. Teknologi udah jadi bagian dari hidup kita sebagai masyarakat global—dan jelas banget, media sosial punya power gede banget buat ngaruhin gimana kita mikir, gimana kita nilai sesuatu, bahkan gimana kita ngelihat diri kita sendiri.

Setiap hari kita disuguhi konten yang keliatan “sempurna” banget. Feed penuh sama postingan orang-orang yang keliatannya hidupnya so aesthetic, happy, dan sukses. Tanpa sadar, kita mulai ngebandingin:

“Kok dia udah sukses, gue masih gini-gini aja?”
“Liat tuh wajahnya mulus banget, gue malah jerawatan.”
“Gimana sih caranya orang lain bisa secantik/semapan itu?”

Dan akhirnya… kita ngerasa insecure.


Kapan Insecure Muncul? Ya, Saat Kita Mulai Ngebandingin Diri.

Insecure tuh kayak perasaan terus-terusan ngerasa kurang. Kurang cakep, kurang berprestasi, kurang uang, kurang validasi. Terus ditambah lagi tekanan dari lingkungan: tuntutan akademik, keresahan soal kerjaan, masa depan yang blur, bahkan urusan cinta yang nggak jelas juntrungannya. Semua itu jadi beban yang numpuk-numpuk di kepala.

Ditambah lagi, standar sosial sekarang tuh kadang ngeselin:
Kita kayak dipaksa buat jadi versi yang bukan diri kita—cuma supaya diterima.

Misalnya harus tampil glowing kayak artis Korea, punya badan langsing kayak model, atau punya karier dan uang segunung biar bisa dibilang “sukses.” Capek banget, bro.


“Kenapa Fisik Gue Nggak Sempurna Kayak Mereka?”

Pernah nggak sih, liat diri di cermin terus mikir:

“Ih, kulit gue kusam.”
“Hidung gue pesek.”
“Badan gue gemuk.”
“Kok gue jelek banget sih?”

Kayak apa yang kita liat di cermin itu bukan manusia, tapi monster.
Padahal yang kamu lihat itu ya... kamu sendiri.
Tapi kamu udah terlalu keras sama diri sendiri.

Dan ini makin parah gara-gara media sosial seakan nge-define kecantikan/ketampanan tuh satu jenis doang: kulit putih, langsing, tinggi, glowing, hidung mancung, mata belo. Kalau nggak kayak gitu, ya “nggak ideal.”
That’s just... messed up.


Alvi Syahrin dan Buku ‘Insecurity’ – Sebuah Wake-Up Call

Mas Alvi Syahrin lewat bukunya Insecurity nyadarin kita bahwa insecure itu masalah mental yang banyak orang alami. Dan itu manusiawi. Semua orang pernah ngerasa iri, minder, ngerasa nggak cukup.

Tapi kamu harus tau:

“Good-looking itu BUKAN satu-satunya bentuk kelebihan.”

Menurut Mas Alvi, kita bisa banget jadi versi terbaik diri sendiri TANPA harus punya wajah sempurna atau tubuh ideal.

Kamu bisa jadi orang yang:

  • Nolongin orang lain

  • Aktif di kegiatan sosial

  • Rawat hewan liar

  • Nyumbang ke yang butuh

  • Bikin lingkungan jadi lebih bersih dan sehat

Semuanya bisa kamu lakuin tanpa harus jadi supermodel. Serius.


You Don’t Have to Be Beautiful — Be Kind, Be Smart, Be Useful

Kata Mas Alvi:

“You don’t have to be beautiful.
You can be educated, and that’s still beautiful in some ways.”

Kita bisa sukses dan impactful lewat banyak hal:

  • Upgrade skill

  • Bangun karier

  • Jadi pebisnis

  • Jadi guru

  • Jadi pemimpin

  • Jadi versi paling ikhlas dan sabar dari diri kita sendiri

Dan kamu nggak harus jadi good-looking buat semua itu.


KENAPA AKU TIDAK SUKSES SEPERTI ORANG LAIN? AKU PASTI ORANG YANG TIDAK BERGUNA!
Mungkin kita semua merasa bahwa dunia kerja dan akademik dari tahun ke tahun kian kompetitif dan mengharuskan kita untuk terus belajar, beradaptasi dengan maju dan munculnya teknologi baru serta terus-menerus mengembangkan skils yang ada. kita belajar dan berusaha, jatuh lalu bangun dan terus bergerak atas dasar rasa tidak ingin tertinggal dan tersaingi dari individu yang lain. kita seolah sangat menghindari sekali dengan yang namanya gagal dan kecewa, seakan dua hal itu adalah mimpi buruk yang tak boleh kita jumpai dalam hidup ini.

Dengan tekad yang kuat sekuat karang di lautan untuk menghindari kegagalan, kita terus berjuang dan berjuang, tanpa lelah mengucurkan keringat ke tanah, memeras pikiran untuk memecahkan setiap masalah, mengerjakan suatu bidang pekerjaan yang dengan tekun kita lakoni, untuk menjadikan diri kita sendiri sebagai ahli di bidangnya.

Seperti kata pepatah : Sekeras-kerasnya batu, maka ia pun akan hancur juga jika terus-menerus ditetesi air. sama seperti perjuangan yang tak mengenal lelah dan letih yang menemui hasil akhirnya yang gemilang.

Namun ironisnya, kita sadar bahwa realita kadang lebih kejam daripada harapan itu sendiri, kadang dalam proses perjuangan yang kita lakukan untuk meraih impian, kita selalu melihat orang-orang yang telah mencapai garis finish masing-masing sesuai yang mereka inginkan. sedangkan kamu mungkin melihat teman-temanmu yang lebih sukses dan lebih berhasil dalam meraih impian dan cita-citanya. padahal proses kalian dimulai dari garis start yang sama, namun kenapa ya teman-teman kamu lebih cepat dan berhasil di garis tujuan hidup sedangkan kamu tidak? 

Lantas kamu bertanya kepada dirimu sendiri, apa yang salah dengan dirimu, apa yang salah dengan langkah dan caramu dalam meraih keinginan sehingga kamu bisa tertinggal cukup jauh dari teman-temanmu. 

Kita merasa bahwa diri kita tidak sebanding dengan pencapaian orang lain. kita insecure dengan kemampuan dan keadaan kita yang masih belum sukses. belum bisa membahagiakan orang tua yang telah susah payah membesarkan kita.

Kita juga merasa belum bisa memiliki keahlian khusus yang membuat kita spesial di mata orang lain.

Kita pun melihat jika diri ini belum memperoleh karir yang cemerlang yang bisa dibanggakan dan dipamerkan.

Sedangkan, orang lain dan teman-temanmu, mereka mendapat apa yang sebenarnya kamu harapkan dan inginkan yakni pekerjaan yang jelas, prestasi yang cemerlang, pendapatan dan gaji yang tetap, serta status sosial yang tinggi.

Menurut mas alvi, setiap orang memiliki jalur kompetisinya masing-masing yang berbeda satu sama lain. tangga proses yang didaki bertahap dan tidak selalu sama. dan proses yang dilakukannya pasti akan berbeda. 

Tapi, kamu enggak harus jadi 
pemenang di semua kompetisi itu. 
Nggak semua kompetisi harus
 kita menangkan,, 
tapi perlu kita perjuangkan, sebisa kita.
-Alvi syahrin

Daripada kamu merasa insecure terus-menerus, mengapa kamu tidak fokus saja dengan target dan tujuan yang ingin kamu capai. kenapa kamu malah sibuk dengan rasa minder dan ketidakpercayaan dirimu, menghabiskan waktu dan tenaga dengan membanding-bandingkan dirimu dengan kehidupan orang lain? bukankah hal itu menjadi kesia-siaan belaka. 

Jadikan orang lain yang sudah menggapai suksesnya, sebagai panutan atau contoh yang harus kamu tiru dan ikuti langkah-langkahnya dalam mendaki bukit kesuksesan. bukan malah dijadikan bahan perbandingan.

Daripada kamu memikirkan hal yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan, akan lebih baik jika kamu fokus dengan kelebihan yang kamu miliki dan berusaha untuk meraihnya. 

Hidup dengan pola pikir yang serba membandingkan, percayalah hal itu tidak akan meningkatkan value dalam dirimu sendiri. namun akan menjatuhkanmu ke dalam lubang yang stagnan yang membuatmu tidak melakukan apa-apa.

Abaikan pencapaian orang lain, hiraukan cuitan nada merendahkan dari mereka tentang dirimu. hidupmu adalah milikmu, kamu yang berhak mengontrol dan mengarahkannya, bukan orang lain.

Sekarang masalahnya hanya satu : semuanya ada di dalam dirimu, apakah kamu akan selalu menjadi orang yang terjebak dalam rasa insecuremu? atau kamu bangkit dan fokus menjadi versi terbaik dalam hidupmu tanpa harus seperti orang lain?

Ya, kunci dari semua ini ada di pilihamu sendiri.

REFLEKSI DARI AKU SENDIRI
Buku ini mengajarkan banyak hal tentang insecure sebagai bagian dari dinamika psikologis dan sosial yang dialami oleh manusia. tentang bagaimana insecure seolah menjadi virus jahat yang tumbuh dan berkembang di dalam mental kita sendiri yang membuat kita tidak percaya diri dan menganggap bahwa diri ini begitu kerdil dibanding dengan orang lain. insecure adalah sesuatu yang jahat, tapi bisa menjadi stimulus bagi kita untuk terus berkembang dan terus bertahan. 

Sebagai individu, aku pun adakalanya sangat merasa insecure dengan diriku sendiri. aku insecure dengan fisiku yang tak sama dengan yang lain, aku pun bingung dengan ketidakjelasan masa depanku yang seolah menggantung di pintu takdir yang tak tentu. pencapaian yang tak seberapa bila dibanding dengan prestasi dan keberhasilan dari teman-temanku yang lain.

Aku merasakan beban insecure itu hampir setiap hari, setiap detik waktu, tentunya sangat terasa amat menyiksa. bagi kalian para pembaca yang mungkin pernah merasakan insecure dengan diri sendiri pasti paham kan gimana ga enaknya?

kita tak nyaman dengan beban insecure ini, tapi bingung bagaimana agar insecure ini, setidaknya bisa berkurang dan kita pribadi bisa mengendalikannya.

Hari-hari yang aku jalani terasa muram, sisi batin dan emosionalku masih sibuk bergelut dengan rasa insecureku. hingga datanglah hari itu, hari dimana buku ini sampai, buku karya mas alvi syahrin yang membahas mengenai insecurity yang menjadi secercah harapan bagiku yang tengah mengalami krisis jadi diri ini. 

Buku mas alvi membuka wawasanku dari perspektif yang lain, dari belantara lain yang belum kujamah mengenai arti dan makna dari insecure ini. lembar demi lembar halaman kubaca, isi buku yang seolah menuntunku agar aku bisa berdamai dengan diriku sendiri dan menyuruhku supaya terbebas dari beban mental yang begitu berat ini.

Buku ini aku rekomendasikan bagi siapa saja yang tengah berjuang melawan rasa insecure mereka. berjuang mencari arti sebenarnya dari diri kita sendiri, diri kita yang memiliki segudang potensi dan keistimewaan yang sayangnya dipendam oleh insecure yang tak ada ujungnya.

Btw, @alvisyhrn, adalah nama instagram dari si penulis buku ini. temen-temen barangkali mau mengunjungi IG beliau dan melihat konten serta buku-buku yang sudah beliau tulis.

Tetap bersama ruang ilmu beserta tulisan-tulisan yang akan di post berikutnya. aku leo selaku penulis, pamit dulu. sampai bertemu di tulisan-tulisanku yang lain.



 



Komentar

Postingan Populer